Amal atau perbuatan menunjukkan jati diri seseorang. Identitas prilaku atau akhlak menjadi brand/merek kita. Baik prilaku baik pula nama baik kita. Jelek akhlak kita, jelek juga kita dikenal orang. Ahsanu amala secara definisi berarti sebaik-baik amal. Yaitu amal yang paling ikhlas atau benar baik. Prilaku kita bergantung hati kita. Baik niat, perkataan dan perbuatan kita. Nabi Muhammad SAW bersabda :

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

BACA JUGA  : Kolaborasi Pembelajaran dan Soft Skill

Ahsanu amala merupakan bahasa langit yang menjelaskan tentang amal seorang hamba kepada tuhannya. Di dalam QS. Al-Mulk ayat 1-2, Allah berfirman yang artinya:

“Maha suci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup. Supaya Dia menguji kamu. Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

BACA JUGA : Jurus Eksis Menangkal Krisis

Melihat ayat di atas menunjukkan bahwa kualitas amal lebih utama. Bahkan dalam ayat tersebut tidak menunjukkan kuantitas amal. Seberapa banyak amal yang kita lakukan bisa tidak  ada nilainya bila dibarengi dengan kualitas amal  tersebut. Allah tidak membutuhkan jumlah namun kualitas amal yang menjadi ukuran utama.

Menurut Al-Fudhail bin Iyadl, yang dimaksud Ahsana ‘Amala adalah amal yang iklas dan benar. Beliau mengatakan: “Sesungguhnya suatu amal apabila ‘benar’ tetapi tidak ‘iklas’ maka tertolak. Demikian pula amal yang ‘iklas’ tapi tidak ‘benar’ juga tertolak. Iklas adalah semata-mata untuk Allah, dan benar adalah sesuai dengan tuntunan Rasullulah SAW.”

Lalu hubungannya dengan dunia kerja dan pekerjaan apa? Ada hubungannya. Apa kira-kira? Amal dalam dunia kerja atau bagi perusahaan diibaratkan adalah produk dan jasa. Sedangkan bagi pekerja “amal “ merupakan sikap profesionalisme dalam bekerja.

Produk dan jasa harus ahsan (baik). Baik disini ditinjau dari kualitas dan mutu produk tersebut. Bukan sekedar mahal. Mahal bukan jaminan baik walau kadang barang yang mahal menunjukkan kualitas. Ingat ada pepatah ada barang ada uang. Harga menentukan kualitas. Mana ada orang mau produk yang dibeli jelek apalagi dengan harga yang mahal ditambah lagi dengan pelayanan atau service yang  tidak prima. Setiap produk dan jasa harus memenuhi kualifikasi atau standar yang ditetapkan. Bukan barang yang dibawah standar.

Produk dalam negeri terkadang menjadi penonton dinegeri sendiri. Tak laku. Diserbu dengan barang atau produk luar negeri. Sebut saja dari China. Barang produksi tumpah ruah di Indonesia. Mulai dari mainan sampai berwujud makanan hadir menjajah Indonesia. Bukan sekedar kualitas yang bagus namun harga produknya sangat murah. Diluar batas kewajaran akal sehat produk Indonesia. Kita masih bertahan dengan harga kita padahal sudah China mampu menciptakan produk yang murah meriah (walau beberapa produk juga murahan) dan menghajar produk dalam negeri.

Produk dan jasa yang kita produksi harus memenuhi minimal standar nasional Indonesia (SNI). Produk aman dipakai oleh konsumen tidak membahayakan dan membuat celaka.  Bila berupa makanan harus memenuhi kriteria halal oleh Majelis Ulama Indonesia dan mendapatkan ijin edar BPOM atau dinas terkait. Bukan banyaknya produk diprioritaskan namun produk tersebut membawa manfaat atau tidak bagi user atau konsumen.

Kita dengar tahun 2018 ini ada produk kesehatan yang mengandung DNA babi. Produk yang telah banyak dikonsumsi oleh banyak orang muslim. Produk yang memiliki ijin edar namun karena tidak ahsan (baik) dan tidak halal harus ditarik dari peredaran. Kemana pihak berwenang dan terkait mengenai peredaran barang tidak halal ini. Kok bisa kecolongan dalam hal pemberian ijin edar.

Pekerja dalam melaksanakan kewajibannya harus ahsan (baik) atau dalam bahasa kerennya output dari pekerjaan kita harus bermutu dan berkualitas. Bagi pengusaha visioner hasil pekerjaan menjadi tolok ukur dalam menilai karyawan. Tapi juga jangan lelet. Pekerjaan kita bermutu dan berkualitas tapi harus dikerjakan dengan waktu lama. Bisa rugi perusahaan. Berrmutu dan berkualitas tapi harus efektif dan efisien dalam pengerjaannya.

Dapat disimpulkan bahwa sebuah pekerjaan dilakukan dengan ahsanu amala bilam mememenuhi kriteria.

  1. Dikerjakan secar profesional
  2. Bermutu dan berkualitas
  3. Efektif dan efisien dalam pengerjaannya.
  4. Memberi efek manfaat bagi penggunanya.
  5. Tidak mengurangi kualitas dan mutu baik sengaja maupun tidak disengaja.

Semoga termasuk orang yang ditakdirkan menjadi pribadi yang mengutamakan ahsanu amala bukan aksaru amala dalam pengertian banyak tapi tidak berkualitas atau bermutu.