Era globalisasi seakan menjadi transit terakhir bagi manusia dalam menikmati hidup. Manusia berlomba-lomba mengejar kesenangan duniaawi, seakan kiamat akan tiba besok hari. Gelimang materialistik mencengkram kehidupan manusia. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan perut dan nafsu individualistik dianggap telah perfect. Padahal itu hanya tipuan globalisasi yang menjanjikan kebahagian semu.  Akankah kita terjebak olehnya?

Kita sering mempunyai persepsi bahwa bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan perut saja. Sebab dengan kita bekerja segala kebutuhan dapat terpenuhi. Kalau begitu, manusia ibarat binatang. Pagi berangkat/keluar rumah sore hari pulang ke kandangnya. Walaupun kadang-kadang pulang tanpa hasil.

Baca Juga : Pentingnya Soft Skill Bagi Siswa SMK

Di kota-kota besar pekerjaan sulit didapat karena persaingan begitu ketat. Pihak penerima kerja selain menetapkan standar pekerja yang akan diterima. Persyaratan memiliki skill atau keterampilan bagus khususnya bidang bahasa asing dan komputer harus dipersiapkan menembus persaingan memasuki dunia kerja. Terlebih lagi pada zaman sekarang dengan perekonomian yang lesu banyak perusahaan bangkrut. Secara otomatis banyak karyawan diPHK sehingga pertambahan pengangguran tak dapat dielakkan lagi.

Bekerja sebagai ibadah.  Itulah statement suci yang jarang dijadikan tuntunan manusia-manusia modern. Filosofi Kar max kerapkali menjajah pemikiran kita.  Pernyataan kebutuhan manusia hanya terletak pada sandang,  pangan,  papan dan seks memasung pikiran kita. Dan selalu berkoar bahwa agama sebagai candu bagi masyarakat.

Lain halnya dengan Abraham Maslow, walaupun sama-sama menjauhkan agama, namun pemikirannya sedikit lebih menyentuh fitrah kehidupan manusia. Five satisfaction merupakan buah pemikiran  Maslow terdiri dari kebutuhan hidup fisiologik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan ego dan kebutuhan realisasi diri (self actualisation).

Baca Juga : Bekerja, Beribadah atau Sekedar Mencari Nafkah

Patut kita sayangkan karena dizaman reformasi ini, masih banyak manusia penganut agama secara tak sadar mengikuti pola pikir yang menyesatkan dari Karl max dan Maslow. Secara empiris maupun logika nyata-nyata menjauhkan agama dari segala sendi kehidupan manusia. Dengan sendirinya manusia akan bebas nilai tanpa aturan/norma agama. Na’udu billahi min dzalik.

Islam sebagai salah satu agama samawi memberi resep jitu.  Bagaimana kita menghindari racun pemikiran Karl Max itu agar tidak membelenggu atau memasung otak manusia dalam meniti kehidupan di masa depan.

Menurut Dr. Thohir Luth dalam bukunya “antara perut dan etos kerja dalam perspektif Islam”  Manusia bukan hewan globalisasi yang bebas nilai.  Mendahulukan kepentingan perut, kerja hanya untuk perut saja. Bila demikian norma agama akan tertidur. Jika syariat agama ditinggalkan, maka akan menjadi awal kehancuran peradaban.

Lebih lanjut Thohir Luth menyatakan bahwa segala aktivitas manusia yang baik adalah amal sholeh dan ibadah termasuk bekerja. Persyaratan atau kriteria perbuatan yang baik dalam bekerja adalah :

Pertama, ikhlas yaitu kita mampu mengatur badan. Pikiran dan hati agar senantiasa tertuju pada pengharapan ridho Allah SWT dengan penyertaan niat yang suci.

Kedua. Cinta. Cinta mempunyai makna mendahulukan kepentingan pihak yang dicintai dan selalu berharap balasan cinta dari sesuatu yang dicintai. Melakukan perbuatan sesuai dengan prosedur, tetap memegang kaidah agama dan tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai hasil.

Ketiga, istiqomah sebagai ketaatan pada prosedur yang benar sesuai anjuran dan tetap memegang kaidah agama.

Keempat, kesesediaan berkorban. Bila kita mencintai sesuatu, maka kita tentu bersedia berkorban baik waktu, tenaga, pikiran, harta benda dan perasaan demi memperoleh cinta dari apa yang kita cintai.

Kelima, membelanjakan di jalan yang benar. Membelanjakan atau mengeluarkan sebagian rezeki yang diterima dalam bentuk zakat, infak, sedekah dan membantu sesama yang ditimpa musibah.

Tantangan pekerja selalu ada. Baik dari dalam diri kita maupun sistem lingkungan tempat kita bekerja. Etika kerja harus dipupuk dalam hati dilandasi dengan kaidah agama. Sehingga suasana kerja tidak kering tapi menyejukkan hati. Prinsip Karl max dan Maslow harus dibuang jauh-jauh. Jangan meracuni motivasi kerja pemikiran insan beriman.

Jerat-jerat dalam dunia kerja memang sukar dihilangkan. KKN gaya baru berkembang. Hibah merupakan nama baru persekongkolan rendahkan kalangan elit maupun eksekutif.  Pengelolaan secara subjektif, mark up (penipuan data), kejahatan teorganisasi ditambah monopoli dan pemerasan tak langsung terhadap rakyat kecil telah menjadi pemandangan sehari-hari di Indonesia.

Agar terhindar dari jeratan dan bobroknya moralitas kerja, kita sebaiknya menumbuhkan etos kerja islami dengan cara : Pertama, niat ikhlas kepada karena Allah SWT. Kedua kerja pantang mundur. Ketiga, memiliki cita-cita setinggi mungkin.

Fenomena keberadaan pengamen, polisi cepek, pemulung, tuna wisma, pengelap mobil dipersimpangan lalu lintas serta masalah kriminal harus menjadi perhatian untuk mengatasi dampak urbanisasi yang menjadi-jadi. Setelah berada dilingkungan kerja kita mendapatkan banyak pengalaman, teman dan lain-lain. Teman sekerja menjadi penyemangat atau dapat menjadi penghambat dalam ekpresi kerja kita. Dengan teman sekerja yang mendukung, kerja kolektif dalam team work yang handal akan menambah peluang mencapai target hidup kita.

Segala sesuatu tergantung niatnya, sabda Nabi dalam hadistnya. Niat bekerja harus dilandasi dengan nilai-nilai keislaman bukan hanya memenuhi kebutuhan perut saja. Bekerja harus mempunyai dua nilai. Nilai akherat dan nilai duniawi. Kebutuhan duniawi terpenuhi tapi bernilai akherat. Semoga kita menjadi pribadi yang mampu menata niat agar kita bekerja memenuhi kebutuhan keluarga atau dunia tapi berpahala. Amin.