Guru memang salah satu sumber belajar. Dalam arti guru bukan satu-satunya sumber ilmu dalam pembelajaran. Apalagi diera sekarang ilmu banyak tersebar di website2 pendidikan dalam bentuk dokumen baik bisa dibaca langsung maupun bisa diprint out. YouTube penyedia konten video bisa diakses kapan dan dimana pun untuk belajar dan aplikasi modern lainnya.

Predikat guru melekat pada orang2 yang memang memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan dengan aturan yang ada. Terlebih pada sekolah negeri, guru harus memiliki banyak persyaratan utamanya dalam hal kualifikasi pendidikan. Salah satunya guru harus memiliki level pendidikan minimal sarjana sesuai dengan undang-undang pendidikan nasional.

Memang kualifikasi pendidikan berpengaruh dalam hal pembelajaran. Semakin tinggi kualifikasi pendidikan maka mindset guru tentang input, proses dan output pembelajaran akan makin komplek dan menyeluruh dengan dukungan keilmuan yang memadai.

Banyak cara meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran di kelas. Saya yakin guru-guru di Indonesia sudah banyak melakukannya sesuai dengan kemampuan dan dukungan sekolah. Mulai yang sederhana sampai yang melibatkan teknologi informasi yang inovatif dan kreatif.

Salah satu cara lain yang dapat dilakukan untuk perbaikan dan mutu pembelajaran di kelas dengan metode benchmarking. Apa itu benchmarking? Baik kita ikuti penjelasan berikut ini.

Benchmarking sebenarnya sudah lumrah dan biasa dipakai dalam dunia bisnis untuk perbaikan mutu dan kualitas sebuah perusahaan dalam bentuk produk atau jasa. Lalu bisakah metode ini digunakan dipakai untuk perbaikan mutu dan kualitas pembelajaran ? Jawaban bisa dengan beberapa persyaratan.