Dalam sebuah proses belajar ada tiga jenis keterampilan atau kemampuan yang diberikan oleh seorang guru kepada peserta didik yaitu kemampuan afektif,  kognitif dan psikomotorik. Psikomotorik identik dengan hard skill.  Kognitif berbasis pada ilmu pengetahuan sedangkan afektif berkaitan dengan sikap, perilaku, kepribadian,  dan karakter.  Ranah afektif dalam bahasa manajemen SDM disebut soft skill.

BACA jUGA : Ahsana Amala Bukan Aksaru Amala

Soft skill tumbuh dalam bentuk karakter diri. Karakter diri terbentuk dari budaya atau kebiasaan hidup tidak hanya dari dunia akademik namun sejak kita kecil. Contoh keseharian kita,  teladan yang baik membentuk soft skill secara tak langsung. Prilaku orang tua dalam bersikap, bertutur baik dalam keluarga maupun bermasyarakat akan menjadi panutan contoh nyata kepada anak-anak kita. Misalnya orang tua menyuruh anak sholat padahal orang tuanya belum melaksanakan sholat, ini akan menjadi bumerang pembentukan karakter anak. Anak akan meniru prilaku orang tua. Prilaku anak akan N-A-T-O (no action talk only).

BACA JUGA : Jujur sebagai modal awal

Istilah soft skill merupakan bahasa sosiologis yang berkaitan dengan pengendalian emosi atau EQ (emotional quetiont).  Seseorang yang memiliki EQ akan berkontribusi bagi kemajuan organisasi/dunia kerja,  komunitas atau pergaulan.  Soft skill  mencakup karakter kepribadian,  kemampuan bahasa, kebiasaan pribadi yang nampak pada sikap dan prilaku seseorang.

Dalam pengembangan kurikulum, salah satu pertimbangannya adalah perkembangan psikologis peserta didik.  Peserta didik pelaku dalam pembelajaran jangan dianggap objek. Yang hanya dijejali pengetahuan saja.  Saya analogikan pembelajaran dengan  tepuk tangan. Analogi sederhana ini akan memberikan gambaran kepada kita bahwa guru dan murid harus bekerjasama dan bersinergi.

Kita mengetahui bersama output  tepuk tangan adalah suara tepukan  keras berasal dari telapak tangan yang saling beradu. Bila kedua tangan bersinergi untuk bergerak maka keduanya akan bertemu dan akan menghasilkan suara tepukan keras. Begitu juga sebaliknya.  Salah satu tangan tidak bergerak maka tidak akan menghasilkan suara apa-apa. Tak bersuara dan Hampa. Lebih parah lagi bila keduanya tidak bergerak maka juga tidak menghasilkan apa-apa. Tanpa aksi maka tidak akan menimbulkan reaksi.

Begitu juga dengan proses belajar mengajar, guru dan pesera didik bersinergi dan saling mendukung maka tujuan pemberlajaran akan tercapai. Namun sebaliknya jika salah satu keduanya tidak bersinergi maka pembelajaran tidak berhasil. Ouput pembelajaran tidak ada. Proses belajar hanya sekedar rutinitas harian. Guru dan siswa datang ke kelas tidak ada interaksi keduanya. Sibuk dengan urusan masing-masing, maka pantas peserta didik tak mempunyai kemampuan baik ranah afektif, kognitif dan psikomotorik.  Dengan alasan inilah wacana peninjauan kembali tentang tunjangan profesi pendidik banyak disuarakan kareana guru belum menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan pembelajaran yang optimal. Dibuktikan dengan banyaknya pengangguran di negeri ini.

Pembelajaran erat kaitannya dengan penumbuhan soft skill saat duduk di bangku sekolah. Memiliki soft skill yang baik perlu menerapkan cara belajar yang baik pula. Cara belajar menentukan cara menumbuhkan sifat soft skill.  Cara belajar tersebut antara lain learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be.

Kolaborasi soft skill dalam pembelajaran di SMK  lebih cocok dimasukkan dalam pembelajaran mata pelajaran produktif. Mata pelajaran produktif  menitikberatkan pada kemampuan psikomotorik atau hard skill.  Pada mapel produktif yang berisi praktik kerja dapat dilakukan pengembangan soft skill peserta didik dengan tahapan-tahapan yang tertuang dalam silabus dan rencana pelaksanaan pelajaran. Soft skill masuk pada proses, strategi pembelajaran, model pembelajaran maupun tertuang dalam standard operating procedure (SOP) praktik kerja. Tahapan penting dalam pengembangan soft skill meliputi hard work (kerja keras), kemandirian dan team work (kerjasama tim).

Kerja keras artinya pantang menyerah, ulet dan tahan terhadap tekanan pekerjaan dalam dunia kerja. Untuk memaksimalkan suatu pekerjaan dan mendapatkan hasil yang maksimal tentu butuh upaya kerja keras dari diri sendiri maupun lingkungan baik langsung maupun tak langsung. Hanya dengan kerja keras ditambah kerja cerdas, orang akan mampu mengubah garis hidupnya sendiri dalam meniti kehidupan dunia kerja yang serba keras. Melalui pendidikan bermutu, berkualitas, terencana, terarah dan didukung pengalaman belajar dalalam magang kerja (pengalaman), siswa akan memiliki daya tahan dan semangat hidup bekerja keras dan cerdas.

Hidup mandiri atau bekerja mandiri, dilatih dalam pembelajaran psikomotorik. Siswa mampu memecahkan persoalan atau masalah dalam praktik. Guru hanya memberikan bimbingan bukan aturan yang kaku. Siswa yang responsif terhadap instruksi kerja, percaya diri dengan kemampuannya dan punya inisiatif sendiri dalam memecahkan persoalan tidak menunggu diperintah. Inisiatif muncul dari orang-orang mempunyai soft skill yang terlatih dan melekat dalam karakter kesehariannya.

Keberhasilan buah kebersamaan hasil kerja tim. Bukan one man show. Persoalan seberatkan apapun akan menjadi ringan bila dipikirkan bersama.  Satu kepala memikirkan dan mencari solusi masalah kecil akan menjadi berat. Masalah berat akan terasa ringan bila dipikirkan dengan beberapa kepala. Solusi didapat masalah minggat. Soft skill memberi warna dalam pekerjaan kita. Soft skill bukan sekedar persyaratan masuk dunia kerja namun kebutuhan untuk mendampingi hard skill meraih sukses dan impian kita.

Saya punya cerita yang dapat diambil hikmah dalam mendidik siswa kita di sekolah berkenaan soft skill dalam pembelajaran. Sebut saja nama Mastur. Murid saya ini tidak terlalu pintar dalam akademknya. Dengan modal rajin masuk  sekolah, si Mastur ini tidak pernah ketinggalan kelas, selalu naik kelas dengan standart nilai di atas KKM. Pada waktu Mastur duduk dibangku kelas XII menjelang ujian nasional, kasus ini bermula. Saya menangkap basah anak ini main handphone saat pembelajaran berlangsung. Tanpa basa-basi saya merampas handphonenya dan saya cek isi handphone. Apa gerangan yang membuat anak ini bersibuk ria main handphone saat pembelajaran?  Rasa penasaran muncul karena tidak biasanya Mastur berbuat seperti itu.

Akhirnya teka teki ini terjawab, setelah saya mengecek isi handphone milik Mastur. Sungguh diluar dugaan bahwa handphone Mastur pada bagian galery foto menyimpan gambar porno. Gambar yang tidak pantas disimpan atau dilihat seorang peserta didik. Saya coba menenangkan diri, agar tidak emosi dengan kasus ini. Setelah pembelajaran selesai saya sampaikan ke Mastur bahwa handphonenya dapat diambil kepada wali kelas saat jam istirahat. Mastur mengiyakan dengan mengangguk menjawab pertanyaan saya. Sebelum jam istirahat saya berkoordinasi dengan wali kelas Mastur sehubungan dengan kasus ini. Saya jelaskan kronologinya dan saya mengharap sekali wali kelas mengambil langkah tepat menangani kasus Mastur ini. Agar tidak berlarut-larut.

Saat jam istirahat Mastur pun menghadap wali kelas hendak mengambil handphone  sesuai permintaan saya. Setelah diintrogasi dan pendalaman masalah ini oleh wali kelas, Mastur bersikukuh bahwa gambar porno yang ada di galery foto handphonenya bukan miliknya. Foto-foto tersebut ada sebelum handphone tersebut dibeli oleh Mastur. Karena Mastur tetap bersikap tidak mau mengakui gambar porno itu miliknya maka wali kelas mengancam Mastur akan memberitahukan kasus ini kepada orang tuanya. Diancam seperti ini Mastur malah mengancam balik wali kelas. Mastur mengancam bila sampai kasus ini sampai ke orang tuanya maka Mastur akan keluar dari sekolah. Weeh seru nich!

Saya tahu ini kurang sehat. Maka saya coba menyarankan wali kelas untuk mengalah. Masalah Mastur ini tidak dilanjutkan dengan memanggil orang tuanya. Dengan catatan Mastur mau berubah sikap dan tingkah lakunya. Pada pembelajaran minggu depannya, jam saya mengajar Mastur masuk seperti biasa. Saya anggap masalah selesai. Saat pembelajaran berakhir saya menyelipkan motivasi kepada semua peserta didik saya. Saya anggap nasehat ini biasa-biasa saja. Nasehat guru kepada muridnya.

Saya berdiri di depan kelas. Saya pandangi satu persatu siswa saya termasuk si Mastur. Saya tidak ingin melewatkan pandangan agar tercipta suasana hening. Kemudian saya berucap perlahan sambil menahan nafas. “Nak, bila kalian mau pergi ke sekolah berhentilah dipintu gerbang. Disitu ada tiang listrik. Gantungkan sikap malas dan prilaku nakal kalian di tiang listrik itu. Jangan ada yang tersisa. Jadi masuk sekolah dengan motivasi belajar yang tinggi dan senang berada di sekolah. Mengerti anak-anak!  “Mengerti, pak” jawab mereka. Nasehat saya ini disikapi beragam oleh murid-murid saya. Ada yang senyum-senyum. Banyak juga serius mendengarkan dan tak sedikit acuh tak acuh. Termasuk si Mastur masuk kelompok yang senyum-senyum saja.

Tahun itu juga Mastur lulus dari sekolah saya. Dari teman-temannya saya dapat kabar bahwa setelah lulus Mastur bekerja di bengkel bekas tempat maganggnya saat kelas XI. Sebagai guru saya senang dengan kabar tersebut mudah-mudahan Mastur tidak mengulangi sikapnya yang salah saat sekolah.

Lama  tidak ketemu Mastur. Mungkin 2 tahun. Pada acara dies natalis SMK kami yang ke-5, sekolah kami menyelenggarakan service gratis sepeda motor.  Sekalian promosi. Bahwa SMK bisa. Kami mengundang alumni yang bekerja di dunia usaha berpastisipasi menyukseskan acara ini termasuk si Mastur. Mastur menyanggupi datang, dia ambil libur kerja sesuai tanggal service gratis yang direncanakan.

Acara berlangsung dengan sukses. Banyak pemilik sepeda motor datang untuk mendapatkan service gratis. Mereka puas dengan pelayanan mekanik-mekanik yang berasal dari sekolah dan alumni. Menjelang acara ditutup saya ngumpul bareng dengan para alumni melepas kangen karena lama tak jumpa. Disela-sela obrolan santai itu, Mastur melontarkan pernyataan diluar dugaan saya. Mastur menyatakan bahwa ia selalu ingat dengan perkataan saya di kelas saat pembelajaran waktu sekolah dulu. Pernyataan yang mengatakan bahwa “Nak, bila kalian mau pergi ke sekolah berhentilah dipintu gerbang. Disitu ada tiang listrik. Gantungkan sikap malas dan prilaku nakal kalian di tiang listrik itu. Jangan ada yang tersisa. Jadi masuk sekolah dengan motivasi belajar yang tinggi dan senang berada di sekolah”.

Saya kaget mendengar perkataan Mastur. Saya juga lupa dengan kata-kata saya saat itu namun Mastur mengingatnya dan menjadikannya motivasi untuk maju dan sukses. Terbukti sekarang Mastur mampu membuka bengkel sendiri sehingga memilki bisnis sendiri tidak tergantung dengan orang lain. Saya senang mendengar kabar tersebut.

Dari cerita di atas dapat diambil hikmah, soft skill (keinginan untuk berubah dan termotivasi) terbentuk dalam diri peserta didik manakala pendidik mampu menyelipkan bahkan memasukkan  soft skill dalam pembelajaran di sekolah. Baik dalam bentuk verbal dan non verbal. Semoga!