Selama manusia ingin hidup, dunia akan berpacu dengan waktu. Waktu terus berjalan tidak menoleh kepada kita. Kadang hidup menunggu waktu untuk berpisah dengan dunia. Hidup menerobos ruang dan waktu untuk bertahan hidup. Hidup memang sebentar. Mengisinya dengan hal positif sebuah keniscayaan. Hal negatif juga tak dilupakan. Dikejar dan dipeluk mesra. Kemana berlabuh kehidupan kita, kekanan atau kekiri. Atau menatap masa depan abadi. Kita bertanggung jawab terhadap hidup kita dengan sisa-sisa waktu yang terbuang.

Bekerja memang cara mempertahankan hidup. Pergi pagi pulang sore bahkan malam. Benar-benar tak kenal waktu. Benar adanya hidup sebentar tapi dipertahankan mati-matian dengan membabat sekat-sekat waktu yang tersisa. Waktu dibiarkan lewat lepas landas dibumi tempat hidup kita. Putih rambut kita, lemah badan kita, ompong gigi kita, kabur pandangan kita  adalah surat cinta tuhan kepada hambanya. Bukan akhir kehidupan namun bukti bahwa kita menjauhi hidup untuk menjemput pada kematian. Bersiaplah untuk hidup menikmati hidup di dunia yang fana ini.

Mensetting persepsi tentang bekerja berasal dari niat kita. Kita hidup sebentar di dunia ini. Dan hidup abadi di akherat kelak. Pilihan kenginan hidup bahagia menjadi prioritas. Entah itu di dunia maupun akherat. Kita harus memilih. Bisa hanya di dunia saja, akherat saja atau dua-duanya (dunia dan akherat).

Pekerja yang memiliki niat ikhlas dan istiqomah memegang prinsip berbasis agama pasti memilih kebahagian dunia akherat. Manusia beruntung jika bahagia keduanya, dunia bahagia dan akherat bahagia. Selaras dengan doa yang kita panjatkan untuk menggedor pintu langit. “Ya tuhan kami, berilah kami kebaikan dunia dan kebaikan akherat dan jauhi kami dari siksa api neraka”.  Do’a sapujagat yang termaktub dalam Al-quran dan kita membacanya setiap waktu.

Lalu bagaimana agar kita mampu dan bisa hidup dengan bahagia dunia akherat ?

Meletakkan orientasi seluruh hidup kita seluruhnya untuk akherat. Bekerja untuk akherat. Bukan yang lain. Artinya mendudukkan niat dihati, ucapan dan perbuatan hanya semata untuk Allah SWT. Bekerja menghasilkan gaji. Gaji berupa uang. Uang dibelanjakan kepada hal-hal yang diridhoi Allah SWT dalam rangka ibadah. Jadi orientasi akherat, menjadikan pekerjaan kita di dunia bernilai akherat walaupun kita lakukan di dunia.

Akherat ditaruh dihati maka dunia akan mengerjar kita. Namun sebaliknya, menaruh dunia dihati maka kehinaan yang kita dapati, akherat menjauhi kita. Mencintai dunia boleh-boleh saja, bahkan kita dianjurkan untuk kaya  namun orientasi  hidup kita adalah akherat, hanya untuk Allah SWT. Akherat tujuan akhir, dunia hanya ladang amal. Dunia tempat menyiapkan keperluan, bekal dan sarana ke akherat. Dunia sekedar transit, tidak lebih. Dunia memang menipu, bila iman kita lemah.

Beberapa manfaat manakala kita bekerja berorientasi pada akherat antara lain :

  • Hidup tenang hati nyaman. Menjadikan akherat orienrasi kita membuat hidup kita tenang. Karena Allah SWT pembimbing kita. Tidak ada rasa was-was mengarungi samudera kehidupan yang menipu ini. Bila hidup tenang dan tak ada rasa waswas membuat hati ini jadi nyaman. Hati bebas dari rasa iri, dengki, hasud dan hasad karena dunia bisa kita kendalikan bukan sebaliknya.
  • Semua urusan bernilai pahala. Menggantungkan urusan kepada Allah SWT, niat kita hanya mengharapkan keridhoaannya. Pekerjaan kita, atau apapun yang kita lakukan semuanya berpahala bila berorientasi akherat. Bekerja bernilai ibadah dan berpahala. Makan berpahala, tidur berpahala apalagi kita beribadah tentunya bernilai ganda.
  • Mengejar akherat, dunia juga dapat. Sekali merengkuh dayung 2-3 pulau terlampuai. Atau bila menanam padi maka kita dapat juga rumput, namun bila kita menanam rumput maka kita tidak akan mendapatkan padi. Itulah mungkin analogi bila kita bekerja berorientasi akherat. Bahagia didunia mulia di akhertat. Ganda yang kita dapat. Lagi-lagi bila berorientasi akherat.
  • Terhindar dari perlombaan mengejar dunia. Bila kita disuruh memilih mau hidup kaya atau miskin ? pasti memilih hidup kaya. Kaya diridhoi. Bukan kaya istidrot. Kaya yang dermawan suka menolong, membantu sesama, banyak bermanfaat bagi sesama dan menjadi jalan rezeki orang lain. Bukan kaya mengharap pujian manusia dengan memenangkan lomba orang terkaya. Kaya dengan niat karena Allah SWT hanya dunia yang didapat. Akherat diabaikan. Banyak harta hanya untuk dirinya. Sulit berbagi dengan orang lain. Hidup bergelimang harta namun harta tidak bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Naudzu billahi min dzalik.

Niat beroirientasi akherat bukan dunia, mari kita tumbuhkan dan bina sejak dini. Biar mudah pake rumus 3M KH. Abdullah Gymsantiar yaitu mulai dari diri sendiri, mulai saat ini dan mulai dari yang kecil. Mari kita berdoa agar kita ditakdirkan menjadi manusia yang berorientasi akherat bukan dunia atau akherat tujuan kita, dunia hanya sekedar ladang amal.