Sumber daya manusia handal tidak cukup memiliki EQ yang bagus dan kompeten dibidangnya. Namun harus memiliki kemampuan lain untuk mendukung kompetensi yang dimiliki. Kemampuan ini sekarang dibutuhkan oleh banyak perusahaan/dunia usaha untuk menggali ide kreatif dan menjaga eksistensi perusahaan tersebut. Karena perusahaan atau dunia usaha yang di kelola dengan ide kreatiflah yang akan terus eksis di era kompetisi tanpa batas ini. Ditambah lagi pemberlakuan ACFTA di mana Indonesia termasuk negara yang memberlakukan ACFTA, persaingan antar perusahaan lokal dan asing akan berlangsung secara head to head.  Baik dalam kualitas, mutu maupun price/harga, bahkan dalam soal brand.

Dalam ilmu manajemen SDM,  kemampuan ini lebih dikenal dengan istilah soft skill.  Ini diyakini dapat menjadi modal dalam memasuki persaingan global dan salah satu kunci kesuksesan berkarir di dunia usaha maupun berwirausaha.  Soft skill agak sulit diukur secara kuantitatif.  Karena soft skill sebuah karakter diri.  Karakter ini terbentuk oleh proses pengalaman,  namun juga bisa dibentuk dengan pendidikan terarah dan terasah dalam sebuah institusi pendidikan.  Soft skill memang tidak dapat dilihat hanya dalam bentuk nilai dalam sebuah transkip nilai, namun harus dapat dirasakan manfaatnya saat bekerja di sebuah lingkungan kerja, serta membawa perubahan besar dalam tatanan lingkungan kerja dengan tanda produktivitas makin meningkat.

Tujuan pendidikan menengah kejuruan atau yang dikenal dengan nama  SMK adalah untuk menggali potensi siswa dengan meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

Dari tujuan pendidikan menengah kejuruan ini tersirat dengan jelas bahwa siswa SMK harus memiliki soft skill. Ditambah lagi pembelajaran siswa di SMK memang mengkhususkan diri pada pembekalan keterampilan kerja pada siswanya. Dengan soft skill yang dimiliki,  siswa akan dapat mudah beradaptasi, memiliki pola pikir kreatif dan kompetitif dibidangnya,  serta dapat berkompetisi di era globalisasi.

 Baca Juga : Bekerja, Beribadah atau Sekedar Mencari Nafkah

Dengan kata lain,  siswa yang memiliki soft skill mempunyai nilai plus dibidang siswa yang tidak mempunyai soft skillSoft skill memang belum diajarkan secara spesifik dalam bentuk mata diklat di sekolah. Baik jenjang menengah maupun pendidikan tinggi. Namun,  soft skill dapat diajarkan dalam bentuk pembelajaran integratif dengan mata diklat yang relevan.  Misalnya kewirausahaan, mata diklat kompetensi kejuruan,  ataupun dalam bentuk muatan lokal.  Soft skill yang dapat diajarkan dalam integrasi dengan mata diklat yang relevan antara lain :

PertamaLeadership/kepemimpinan. Jiwa kepemimpinan dalam dunia usaha/perusahaan sangat berperan penting atau vital.  Seseorang dengan jiwa kepemimpinan yang baik dapat menentukan arah terhadap kepemimpinan atau berjiwa visioner,  target akhirnya bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk kepentingan yang dipimpinnya.

Kedua,  Bahasa.  Pepatah mengatakan” kalau badan luka gampang obat dicari namun bila hati terluka ke mana obat hendak di cari”. Komunikasi efektif bergantung bahasa kita.  Bahasa santun tanpa melukai hati lawan bicara  membawa keberuntungan dalam hidup kita.  Terlebih dalam transaksi bisnis.  Kesan pertama menggoda selanjutnya terserah anda. Kata-kata tersebut cuplikan sebuah iklan ditelevisi,  namun mudah diingat dan sangat terkesan.

Memang bahasa menentukan isi.  Kemampuan berbahasa yang baik diperlukan dalam menjalankan bisnis kita.  Terlebih pada bisnis yang membutuhkan pelayanan prima dalam bentuk komunikasi perlu mempunyai keterampilan berbahasa atau komunikasi efektif.  Siswa SMK perlu dibekali keterampilan ini.  Agar saat memasuki dunia kerja,  siswa terbiasa dengan bahasa komunikasi efektif.  Bukan bahasa pasaran yang jauh dari bermakna.

Ketiga, Manajemen. Pengertian manajemen gampang dipahami namun butuh motivasi kuat untuk melaksanakannya.  Kemampuan mengelola/mengatur harus melekat sejak dini bagi seorang profesional. Mengelola waktu, mengelola arsip, mengelola SDM,  mengelola keuangan, mengelola pemasaran, mengelola strategi, dan lain-lain merupakan bidang cakupan dari manajemen yang sangat luas.

Itulah beberapa soft skill yang dapat diberikan kepada siswa melalui integrasi dengan mata diklat yang relevan.  Masih banyak soft skill yang perlu diberikan ke siswa SMK,  sebagai bekal memasuki dunia kerja.  Alangkah sempurnanya jika stakeholders pendidikan punya inisiatif duduk satu meja membahas mutu lulusan SMK kita.  Salah satunya dengan membekali siswa dengan soft skill.

Guru butuh kemampuan dan waktu ekstra untuk menyisipkan soft skill ini kepada siswa SMK melalui pembelajaran di kelas.  Model pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan akan mempercepat proses tranfer soft skill kepada siswa. Guru juga perlu soft skill.