Kepanjangan SMK adalah Sekolah Menengah Kejuruan. Sebuah sekolah dengan  beragam kompetensi keahlian. Berbeda dengan SMA atau MA yang hanya memiliki jurusan IPA, biologi, bahasa dan IPS. SMK memiliki banyak  kompetensi keahlian atau jurusan. Bahkan untuk mengimbangi perkembangan zaman khususnya tuntutan dunia usaha dan dunia industri sering mengalami perubahan baik kurikulum, standar kompetensi dan kompetensi dasar serta standar kelulusan maupun sarana dan prasarana.

Menurut Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4678/D/KEP/MK/2017 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan terbagi menjadi :

  • 9 bidang keahlian
  • 48 program keahlian
  • 142 kompetensi keahlian

Sedangkan ditahun 2013 sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 7013/D/KP/2013 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan terbagi menjadi :

  • 9 bidang keahlian
  • 46 program keahlian
  • 128 kompetensi keahlian

Dari data di atas ada  peningkatan jumlah program keahlian dan kompetensi keahlian di sekolah menengah kejuruan dari tahun 2013 sampai 2017. Program keahlian dari 46 menjadi 48 dan kompetensi keahlian dari 128 menjadi 142.

Dengan jumlah kompetensi keahlian yang begitu banyak dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi SMK. Semua calon peserta didik dapat memilih kompetensi keahliannya sesuai minat dan bakatnya. Namun kompetensi keahlian tersebut tidak terdapat dalam satu SMK. Karena tidak mungkin sebuah SMK menyediakan ratusan kompetensi dalam satu sekolah.

Baca juga : Fenomena SMK Sastra, terlalu banyak teori

Kompetensi keahlian tersebar dalam beberapa sekolah. Banyak sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) sebagai cikal bakal SMK. Sekolah tersebut antara lain STM, SMEA, SMKK, SPK dan lain-lain.  SMK dengan cikal bakal  SMEA (sekolah menengah ekonomi atas)  biasanya program keahliannya tidak menyimpang dari kompetensi keahlian sebelumnya, masuk kelomopok bisnis manajemen walaupun tak jarang menambah kompetensi keahlian lain misalnya teknik komputer dan lain-lain.

SMK dengan cikal bakal STM (sekolah teknologi menengah), program keahlian yang dibuka masuk kelompok teknologi rekayasa begitu juga sekolah-sekolah yang lain misalnya perhotelan, kerajinan, kerajinan dan teknologi informasi.

Dengan banyaknya kompetensi keahlian memang pilihan kompetensi keahlian menjadi bervariasi. Namun tak sedikit calon peserta didik dan orang tua malah bingung mau pilih kompetensi keahlian yang mana. Bahkan salah  memilih kompetensi keahlian  dan persepsi ilmu yang dipelajari  sering keliru ditemui. Sehingga peserta didik berhenti ditengah perjalanan karena merasa tidak sreg dengan pilihan kompetensi keahliannya. Kadang juga perlu mengulang dari kelas X di kompetensi yang baru. Juga sering ditemui pada kasus-kasus menjelang ujian nasionalpun ada peserta didik yang mau pindah kompetensi keahlian atau pindah sekolah walaupun kompetensi keahlian berbeda. Ini perlu sebuah pemahaman bersama antara calon peserta didik, orang tua dan pihak sekolah tentang kompetensi keahlian yang ada di SMK.

Sekolah hanya memberikan pilihan kompetensi keahlian kepada calon peserta didik untuk memilih sesuai dengan keinginannya. Perlu penyampaian penjelasan kompetensi yang dibuka, apa yang dipelajari, peluang kerjanya bagaimana dan seterusnya. Bukan memaksakan peserta didik untuk masuk pada kompetensi keahlian yang dibuka pada sebuah SMK. Padahal minat peserta didik tersebut berbeda, maka akan timbul permasalahan dibelakang hari. Yakni salah pilih jurusan atau kompetensi keahlian yang menyebabkan putus sekolah atau motivasi belajar menurun.

Agar peserta didik dan orang tua tidak salah dalam memilih kompetensi keahlian di SMK maka lakukan hal-hal berikut :

  • Mintalah informasi yang benar tentang kompetensi keahlian yang dibuka di SMK tempat mendaftar. Informasi bisa diperoleh dari brosur pendaftaran, web sekolah atau langsung datang ke sekolah.
  • Orang tua atau wali murid mengkomunikasikan minat dan bakat calon peserta didik dengan pihak sekolah agar terhindar dari salah pilih jurusan.
  • Bila SMK yag dituju tidak membuka kompetensi keahlian yang diinginkan peserta didik, pihak sekolah dapat memberikan informasi SMK yang membuka kompetensi keahlian yang sesuai.
  • Jangan memaksakan diri untuk memilih kompetensi keahlian yang tidak diminati untuk menghindari putus sekolah atau motivasi belajar menurun.

Salah memilih jurusan atau kompetensi keahlian sering terjadi di SMK dan bisa menyebabkan putus sekolah dan  motivasi belajar menurun  atau pindah sekolah bahkan  siswa harus mengulang sekolah dari awal. Orang tua pun harus bijak memilih kompetensi keahlian untuk anaknya. Jangan memaksakan anak mengikuti kemauan orang tua dalam memilih kompetensi keahlian atau peserta didik ikut-ikutan temannya dalam memilih kompetensi keahlian sehingga salah pilih jurusan dapat dihindari.